Beranda

16 September 2010 7 komentar

Jangan pandang masa lalu dengan kesedihan, jangan pandang masa depan dengan ketakutan, pandanglah masa kini dengan kesadaran. Ininlah ungkapan yang tepat bagaimana cara pandang seorang mahasiswa untuk menghadapi tantangan dan peluang masa depannya.  Dengan penuh kesadaran memperbaiki diri menuju masa depan yang cerah, mempersiapkan diri dari sekarang mutlak dilakukan. Perkuliahan yang  terencana dan terarah pada tujuan capaian yang terukur,  suatu jaminan masa depan yang cerah. Demikianlah blog ini dihadirkan untuk membantu para mahasiswa dalam meraih masa depannya dengan terencana, terarah dan terukur dengan dibekali rasa kesadaran dan keyakinan diri yang tinggi untuk meraih cita-citanya lulus sarjana (S1).  Semoga Allah SWT, meridhoi…….Amin….

Kategori:artikel lepas

Revolusi Mental Untuk Mencapai TriSakti

Sabtu, 10 Mei 2014 | 16:03 WIB TRIBUNNEWS/JEPRIMA

Revolusi Mental

Oleh: Joko Widodo

INDONESIA saat ini menghadapi suatu paradoks pelik yang menuntut jawaban dari para pemimpin nasional. Setelah 16 tahun melaksanakan reformasi, kenapa masyarakat kita bertambah resah dan bukannya tambah bahagia, atau dalam istilah anak muda sekarang semakin galau? Dipimpin bergantian oleh empat presiden antara 1998 dan 2014, mulai dari BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia telah mencatat sejumlah kemajuan di bidang ekonomi dan politik. Mereka memimpin di bawah bendera reformasi yang didukung oleh pemerintahan yang dipilih rakyat melalui proses yang demokratis. Ekonomi semakin berkembang dan masyarakat banyak yang bertambah makmur. Bank Dunia bulan Mei ini mengatakan ekonomi Indonesia sudah masuk 10 besar dunia, jauh lebih awal dari perkiraan pemerintah SBY yang memprediksi baru terjadi tahun 2025. Di bidang politik, masyarakat sudah banyak menikmati kebebasan serta hak-haknya dibandingkan sebelumnya, termasuk di antaranya melakukan pergantian pemimpinnya secara periodik melalui pemilu yang demokratis. Namun, di sisi lain, kita melihat dan merasakan kegalauan masyarakat seperti yang dapat kita saksikan melalui protes di jalan-jalan di kota besar dan kecil dan juga di ruang publik lainnya, termasuk media massa dan media sosial. Baca selengkapnya…

OJK Hanya Akui Akuntan Beregister

22 April 2014 11 komentar

Today at 10:29 AM
(Tulisan ini telah terbit di Majalah Akuntan Indonesia Edisi Maret 2014, Rubrik Laporan Utama)

Prof. Ilya Avianti, Ak., CA. | Anggota Dewan Komisioner OJK |

OJK sebagai regulator jasa keuangan, OJK hanya akan mengakui akuntan yang teregister di Kementerian Keuangan dan menjadi anggota organisasi profesi. Sebagai akuntan profesional, Prof. Ilya Avianti paham betul tantangan dunia akuntan ke depan. Apalagi dalam waktu tak lama lagi, bakal diberlakukan ASEAN Economy Community (AEC) 2015, di mana profesi akuntan menjadi satu dari delapan profesi yang dilegalkan bertarung di arena pasar tunggal ASEAN. Tak pelak, perlindungan terhadap profesi akuntan menjadi sesuatu yang tak bisa dinafikan. Menurut Anggota Dewan Komisioner OJK itu, diterbitkannya PMK 25/2014 bertujuan agar profesi akuntan dalam negeri terlindungi dengan baik. Terlindungi dalam arti akuntan tersebut semakin profesional dengan kompetensi yang kian teruji serta teregister di Kemenkeu. “Jadi, dengan adanya register itu, akuntan yang berprofesi dan berpraktik di setiap entitas, apakah itu akuntan pemerintahan, akuntan pendidik, akuntan manajemen, atau akuntan publik, nantinya semua teregister di Kemenkeu,” ujar Ilya. Menurutnya, kondisi ini akan menghindari munculnya akuntan palsu atau akuntan liar. “Seseorang yang mengaku akuntan tapi nyatanya registernya sudah hangus, apalagi tidak menjadi anggota asosiasi profesi, yaitu Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), bisa dikatakan akuntan palsu,” tambah Ketua Komite Audit OJK itu. “Jadi, jelas bahwa PMK ini untuk mengamankan profesi akuntan supaya lebih berkompeten dan profesional, terhindar dari akuntan palsu dan siap berkompetisi di pasar bebas ASEAN.” OJK sendiri sebagai regulator sektor keuangan hanya akan mengakui akuntan profesional yang teregister di Kemenkeu dan terdaftar sebagai anggota asosiasi profesi. Ilya menambahkan, registrasi akuntan ini nantinya juga ditujukan untuk para akuntan asing yang mau berkiprah di Indonesia. Walaupun untuk akuntan asing tersebut ada pengaturan lebih lanjut, berupa kerjasama saling pengakuan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah negara asal akuntan tersebut. Ilya menyadari jika kebutuhan sektor industri, terutama di industri keuangan terhadap akuntan profesional memang cukup tinggi. Sejauh ini, faktanya, jumlah akuntan profesional yang berkiprah di sektor industri masih sangat kecil. “Untuk itu, OJK meng-encourage agar akuntan-akuntan profesional di Indonesia bisa lebih banyak berkiprah di semua sektor industri,” ia menegaskan. DI sisi lain, perguruan tinggi juga mesti banyak menelurkan para calon akuntan yang berkualitas. Calon akuntan berkualitas ini ketika bisa memenuhi semua persyaratan sebagai akuntan profesional, akan menjadi salah satu pilar pembangunan negeri ini. “Akuntan profesional harus memiliki mindset kelimuan yang kuat, skill mumpuni, dan attitude yang berkarakter. Dengan begitu, mereka akan dapat berperan besar dalam kemajuan bangsa,” Ilya meyakinkan.

Tantangan IAI

Selain aturan tersebut menjadi hal positif, di sisi lain secara langsung menjadi tantangan bagi IAI. Menurut Ilya, karena IAI adalah asosiasi profesi yang diberi amanat oleh PMK, organisasi profesi ini mesti berbenah diri dan menyempurnakan infrastruktur pendukungnya. “PMK ini nantinya memudahkan untuk menginventarisasi para akuntan,” katanya. “Cuma sebelum itu terjadi, para akuntan yang selama ini teregister tapi tidak jelas juntrungannya diwajibkan untuk meregister ulang. Dan untuk register ulang itu, pintunya hanya lewat IAI.” Akuntan beregister, diakui Ilya, jumlahnya banyak. “Dan diperkirakan yang akan meregister ulang nanti juga banyak. Saat ini akuntan yang tercatai sebagai anggota IAI jauh lebih sedikit dibanding yang memiliki register negara. Tentu saja ini menjadi tantangan bagi IAI,” katanya. Untuk itu, bagi yang sudah beregister tapi belum menjadi anggota IAI, Ilya mengimbau agar mereka segera menjadi anggota IAI. Jangan melihat kondisi saat ini yang barangkali sudah “nyaman” berada di posisi tertentu. “Kompetensi yang terus terjaga itu dibuktikan dengan mengikuti PPL IAI secara reguler. Saat ini, identitas akuntan profesional Indonesia itu ada dalam Chartered Accountant (CA). Akuntan yang menjadi CA sudah jelas profesionalismenya,” ia menandaskan. “Jadi, bukan formalitas semata. Asosasi profesi yang akan membentuk akuntan tersebut menjadi akuntan profesional.” Tentu saja identitas akuntan profesional menjadi bekal utama para akuntan domestik untuk bisa bertarung di AEC 2015 nanti. “Ingat, pasar bebas ASEAN sudah di depan mata. Kalau kita tidak menjadi anggota asosiasi profesi, kita akan tergilas. Karena, dengan menjadi anggota, kualitas kita akan terus ter-update dengan perkembangan yang ada, profesionalismenya meningkat, serta kompetensinya semakin terasah,” kata Ilya mengakhiri. *TOM

 

Simposium Inovasi dan Kreasi Mahasiswa

22 April 2014 Tinggalkan komentar

Kepada Yth,

Rekan-rekan Mahasiswa/i

Anggota Muda Ikatan Akuntan Indonesia

Di Tempat

 

Perihal: Call For Paper Simposium Inovasi dan Kreasi Mahasiswa

Sejak disahkannya standar akuntansi pemerintahan pada tahun 2005, akuntansi pemerintahan terus berkembang seiring berkembangnya dinamika regulasi dan organisasi kepemerintahan. Dalam proses perkembangannya tersebut, dibutuhkan ide-ide segar dan inovatif untuk memajukan konsep akuntansi pemerintahan di Indonesia dari penerus bangsa, terutama mahasiswa akuntansi. Mahasiswa akuntansi telah dibekali beragam konsep akuntansi (termasuk akuntansi nonpemerintahan) untuk objek-objek yang dikelola negara seperti aset, kas, persediaan, dana yang dikelola untuk masyarakat, dan lainnya. Berbekal dengan konsep akuntansi yang telah dipelajari tersebut, mahasiswa diajak untuk berkontribusi mengembangkan konsep akuntansi pemerintahan yang ada saat ini dalam bentuk tulisan esai dan presentasi.

Dalam tulisan tersebut diharapkan mahasiswa tidak memberikan pengulangan pemaparan atas akuntansi pemerintahan, tetapi lebih diarahkan untuk berkontribusi menyumbangkan ide-ide segar mengembangkan konsep akuntansi pemerintahan agar lebih transparan, akuntabel, efektif dan efisien. Dalam menjawab tantangan tersebut, mahasiswa diminta untuk membuat karya tulis dengan tema: ”Mengaktualisasikan Konsep Akuntansi Untuk Entitas Pemerintahan Dalam Rangka Mewujudkan Transparansi, Akuntabilitas, Serta Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Keuangan Negara”.

Sebagai referensi, terlampir kami sampaikan informasi terkait dengan Call For Paper Simposium Inovasi dan Kreasi Mahasiswa. Berikut : brosur SIMPOSIUM INOVASIKREASI MHSISWA (10 April 2014) (1) (3)

 

Atas perhatian dan kerjasamanya, kami sampaikan terima kasih.

 

Hormat kami,

Ikatan Akuntan Indonesia

 

KPPU : Masyarakat Tidak Sadar Ada Kartel di Semua Lini Usaha

28 Juni 2012 5 komentar

Jakarta. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sudah menginjak usia ke-12 tahun namun perkembangannya dirasa masih lambat, terutama dari sisi perlawanan terhadap kartel. Fakta menunjukkan bahwa hampir semua lini usaha berpotensi besar ditunggangi kartel.

Menurut ketua KPPU Tadjuddin Noer Said, 10 – 20% pelaku usaha di Indonesia melakukan konglomerasi. “Kartel ini mengendalikan harga pasar. Mereka adalah jawaban atas tidak seimbangnya pertumbuhan pesat ekonomi Indonesia dengan pendapatan per kapita penduduknya. Kartel membuat ekonomi negara tidak sehat,” kata Tadjuddin. Baca selengkapnya…

Ciri-ciri Failed States (Negara Gagal)

28 Juni 2012 5 komentar

Noam Chomsky yang merupakan ahli bahasa, filsuf, dan aktivis politik Amerika. Tahun 2006 menulis sebuah buku berjudul Failed States: The Abuse of Power and the Assault on Democracy. Failed States/ negara gagal, istilah yang jauh jauh hari sudah didengung dengungkan oleh para pakar politik, dan jurnalis untuk menggambarkan negara yang sedang atau akan mengalami kegagalan dalam beberapa syarat dan tanggung jawab utama dalam menjalankan negara termasuk kedaulatannya.

Istilah negara gagal belum memiliki definis pasti, karakter negara gagal secara umum adalah negara yang pemerintah pusatnya tidak mampu mengontrol atau menguasai seluruh wilayahnya, pemerintah pusat yang sangat lemah atau tidak efektif, tidak mampu menyediakan pelayanan publik yang memadai, korupsi dan kriminalitas yang meluas; pergerakan pengungsi secara besar besaran, dan penurunan ekonomi yang tajam.

Menurut Noam Chomsky, setidaknya ada 2 karakter utama yang membuat suatu negara bisa disebut sebagai negara gagal. Pertama, Negara tidak mempunyai kemauan dan kemampuan untuk melindungi warga negaranya dari kekerasan dan bahkan kehancuran. Kedua, tidak mampu mempertahankan hak hak warga negaranya baik di tanah air maupun diluar negeri. Juga tidak mampu menegakkan dan mempertahankan fungsi institusi institusi demokrasi. Baca selengkapnya…

Profesi-Profesi Dengan Gaji Selangit

22 Juni 2012 13 komentar

Apa cita-cita Anda sewaktu masih kecil dulu? Mungkin menjadi dokter atau guru, tentara atau polisi adalah keinginan di kala itu. Tapi tentu saja itu hanya sekedar keinginan dari seorang anak kecil saja, yang mungkin hanya terpengaruh dari tontonan di tv atau karena cerita teman-temannya.

Tapi setelah kita dewasa sekarang, tahulah bahwa profesi-profesi tersebut belum tentu bisa menjanjikan gaji selangit seperti yang diidam-idamkan oleh calon mertua. Ya, meski gaji besar dan uang segunung memang bukan jaminan meraih kebahagiaan. Tapi pada profesi tertentu ketrampilan dan pengalaman kita akan dihargai dengan gaji dan fasilitas yang melimpah. Apa saja profesi dengan gaji selangit itu? Baca selengkapnya…

Kategori:Uncategorized

TKI di Negeri Sendiri

22 Juni 2012 4 komentar

Inilah, bukti kita menjadi TKI di negeri kita sendiri. Bila kita masih bermimpi bekerja di luar negeri untuk mendapat gaji yang tinggi, sehingga kita rela jadi TKI di luar negeri. Adakah, kita masih bermimpi untuk mendapatkan gaji yang tinggi di negeri kita sendiri. Berikut ini, yang patut kita renungkan bersama. Pernahkah atau sudahkan kita merdeka?

Masih tertarik dengan profesi dengan gaji selangit? Bila iya, mungkin Anda harus agak kecewa. Sebab ternyata pemilik gaji selangit itu mayoritas adalah para pekerja asing di Indonesia.

Tentu saja banyaknya para ekspatriat di perusahaan multinasional di Indonesia tersebut bisa disikapi lewat dua pendekatan. Yang pertama, bisa jadi harus disyukuri sebab itu berarti iklim investasi dan ekonomi di Indonesia terus membaik sehingga asing mulia percaya. Namun di sisi lain, tentunya hal ini mengundang keprihatinan mengingat hanya sedikit di antara orang pribumi yang dipercaya menduduki top management di perusahaan multinasional.
Menurut hasil Laporan Survei Nasional Tenaga Kerja Asing 2009 yang pekan lalu dirilis oleh Bank Indonesia, ada puluhan ribu tenaga kerja asing yang menduduki puncak pada berbagai perusahaan di Indonesia. Tepatnya adalah 45.384 tenaga kerja asing.

Dari puluhan ribu ekspatriat tersebut sebagian besar menduduki middle to top management pada perusahaan tempatnya bekerja. Sekitar 30 persen menjabat sebagai manajer dan 23 persen adalah sebaga direktur. Baca selengkapnya…

Kategori:Uncategorized
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.